Thursday, August 03, 2006

(Intermeso) Rakyat

Dari semua kata “rakyat” yang sangat banyak digunakan di negeri ini, bagi saya kata “rakyat” yang dituliskan penyair Hartojo Andangdjaja dalam puisinya berjudul “Rakyat” adalah yang paling indah, cerdas dan representatif, Dalam bait pertama dari puisi yang terdiri dari lima bait itu Hartojo menulis :
Rakyat ialah kita
jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batu bara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Dengan membaca bait pertama ini saja, saya merasa telah menemukan makna rakyat yang paling hakiki. Dalam bait-bait selanjutnya Hartojo memperkaya lagi makna hakiki ini dengan mengatakan, Rakyat ialah kita//yang selalu berkata dua adalah dua// Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka//Rakyat ialah suara beraneka// Rakyat ialah kita//darah di tubuh bangsa//debar sepanjang masa//.
Alangkah menggetarkan puisi ini. Selama hampir 40 (empat puluh) tahun, hingga saat ini, puisi tersebut tetap menggetarkan saya. Penyair ini sangat mengenal rakyat karena ia adalah bagian dari rakyat yang ditulisnya itu. Konon, ada pendapat mengatakan, puisi ini ditulis Hartojo Andangdjaja untuk menjawab sebuah pertanyaan yang diajukan muridnya. Pendapat seperti ini timbul karena Hartojo adalah seorang guru dan puisi tersebut ditulisnya sebagai hadiah buat siswa-siswa SMA Negeri Simpang Empat, Pasaman,Sumatra Barat.
Apa pun alasan penulisan puisi ini bagi saya tidak penting. Yang sangat saya rasakan adalah kentalnya rasa cinta dan kekaguman kepada rakyat dalam puisi itu. Dan siapa pun tidak dapat membantah larik-larik yang ditulis Hartojo bahwa rakyat adalah kita//darah ditubuh bangsa.
Rakyat dalam puisi Hartojo tidaklah mengandung makna sempit “segenap penduduk suatu negara” seperti yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) atau sekadar menjadi nomina yang berfungsi menerangkan seperti “lagu-lagu rakyat” atau “teater rakyat”. Inilah bedanya bahasa yang digunakan dalam puisi dan bahasa sehari-hari. Karena kita tidak akrab dengan puisi dan setiap saat bergelut dengan bahasa sehari-hari itu, kata “rakyat” pun kita gunakan sekehendak hati kita.
Akibatnya, kata “rakyat” sering kehilangan maknanya yang sejati. Dewan yang mengaku dirinya mewakili rakyat itu dalam praktiknya hanya mewakili partai. Jika dikatakan “untuk kepentingan rakyat”, pada dasarnya yang dimaksudkan adalah “untuk kepentingan suatu golongan” atau “untuk kepentingan orang-orang tertentu”. Kalau disebutkan “kedaulatan di tangan rakyat”, jangan buru-buru senang. Yang sebenarnya berdaulat adalah orang-orang yang menyebut diri mereka “wakil rakyat”, bukan rakyat yang kata mereka, mereka wakili. Kan, pemilihan umum adalah upacara resmi penyerahan kedaulatan dari tangan rakyat kepada wakilnya. Anda boleh kecewa berat berton-ton karena ketua parlemen Anda yang dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri masih tetap duduk enak di kursi empuknya. Anda tidak bisa berbuat apa-apa karena kedaulatan Anda telah Anda serahkan kepada wakil partai yang katanya mewakili Anda itu.
Walaupun demikian memang masih banyak juga kata “rakyat” yang merupakan nomina yang berfungsi menerangkan arti kata dalam makna yang sebenarnya, seperti “menipu rakyat”, “musuh rakyat” dan “melecehkan akal sehat rakyat”. Yang ditulis terakhir ini adalah yang terbanyak kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak pejabat yang berbicara atau memberi keterangan seolah-olah orang yang mendengar omongannya tidak memiliki akal sehat. Seakan tanpa beban dan tanpa merasa bersalah mereka berkata dengan ringan akan membayar utang negara dengan harta karun. Atau, memberikan cek bernilai miliaran rupiah kepada pihak lain tanpa tanda terima, dsb.
Belakangan sering pula disebut-sebut “pengadilan rakyat”. Frasa ini timbul sebagai reaksi karena kekecewaan terhadap pengadilan resmi yang selalu menjatuhkan hukuman kepada terdakwa berdasarkan “tawar-menawar”. Tidak jelas benar apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan “pengadilan rakyat” itu. Apakah membunuh dan membakar maling yang tertangkap dapat disebut “pengadilan rakyat?” Bukankah kasus seperti itu lebih layak disebut “kejahatan massa”?
Kita sangat sering menggunakan kata rakyat, karena KBBI dengan definisi resminya juga menyebutkan rakyat adalah anak buah, bawahan (ragam percakapan), orang kebanyakan, orang biasa dan pasukan( balatentara). Artinya, kata rakyat dapat digunakan untuk banyak hal termasuk “mengatasnamakan rakyat” yang umumnya untuk kepentingan diri sendiri.
“Rakyat adalah akar rumput yang setiap saat diinjak”, ujar seseorang dengan sinis. “Rakyat adalah objek yang senantiasa dibohongi, ditipu, diperalat, disengsarakan, tidak dilindungi haknya, tetapi senantiasa diperlukan”, ujar seseorang dengan amarah. “Rakyat adalah semata-mata kuda tunggangan dan pengangkut beban”, terdengar suara dari pojok lain. Ungkapan-ungkapan seperti ini merupakan ekspresi kekecewaan atas perlakuan terhadap rakyat pada umumnya.
Mereka—siapa pun dia—yang selalu menunggangi rakyat untuk kepentingannya benar-benar lupa bahwa “rakyat ialah angin yang menyapu kabut” dan “awan menyimpan topan”, seperti kata Hartojo Andangdjaja . Banyak di antara kita lupa bahwa rakyat adalah kekuatan yang maha dahsyat yang dapat meluluhlantakkan musuh-musuhnya dan menentukan hidup matinya suatu bangsa.
Tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika awan menyimpan topan ini tidak mampu lagi meredam desakan dan tekanan topan yang disimpannya. Samudra topan dengan gelombang menggunung mungkin akan menggulung apa saja yang merintanginya. Ini sebuah bencana besar yang harus dicegah jangan sampai terjadi.
Dalam hubungan ini barangkali layak kalau kita menyebut “batas kesabaran rakyat”. Karena batas kesabaran itu memang ada. Cuma, kita juga tidak tahu parameter apa yang harus kita gunakan untuk mengukur “batas kesabaran rakyat” itu. Apakah rakyat memang telah berupaya keras menekan ketidaksabarannya, atau rakyat memang tidak merasa tidak sabar. Kita benar-benar tidak tahu. Yang kita tahu pasti hanyalah ketidakadilan, kezaliman dan kkn masih tetap berlangsung dengan aman. Ini mungkin menimbulkan kemarahan rakyat , kemarahan dalam batas tertentu dan masih dapat dikekang.
Kata “rakyat” sangat sering diselewengkan maknanya, hanya untuk kepentingan tertentu. Politik sangat berperan dalam penyelewengan ini. Sangat langka yang memberi makna menyejukkan terhadap kata “rakyat”. Hartojo Andangdjaja adalah salah seorang di antaranya. Alangkah dalam makna “rakyat” ketika ia berkata : Rakyat ialah suara kecapi di pegunungan jelita// suara kecak di muka pura//suara tifa di hutan kebun pala.

Jakarta, 10 September 2002

Kembali

Di mata Abas yang tampak hanyalah kegelapan.Tidak ada cahaya

sedikit pun.Di kegelapan itu semua orang membisu seakan bersuara

adalah sesuatu yang sangat mahal.Rasa sunyi melukainya dengan

kejam.Ia ingin mendengar bunyi sesuatu.Suara batuk pun mungkin

akan dapat mengusir rasa sunyi itu.

Mengapa harus demikian gelap dan sunyi? Apakah roda

kehidupan akan dapat berputar dalam keadaan seperti itu? Ia

mencoba mencari jawabannya.Dengan adanya jawaban mungkin akan

muncul secuil harapan.Harapan adalah satu-satunya bekal untuk

bertarung mempertahankan kehidupan.

Sebagai orang tua ia tidak memiliki apa pun yang dapat

menyenangkan hatinya..Istrinya telah lama meninggalkannya untuk

beristirahat di alam abadi.Kedua anaknya,Malawati dan

Yazanul,tidak pernah lagi menjenguknya,karena terjerat dalam

kesibukan masing-masing.Repot dengan tugas dan anak-anak mereka.

Ia harus menerima kenyataan itu dengan lapang dada.Rumah

besar yang didiaminya kini menjadi miliknya seorang.Satu-satunya

orang lain di rumah besar itu adalah Tirah,pembantunya,yang telah

bekerja di rumah itu dua puluh tahun.Hanya Tirah yang mengurus

rumah besar itu dan menjadi temannya bicara.

Sebenarnya,usianya baru lima puluh lima tahun,usia yang

belum terlalu tua dan masih dapat dikatakan produktif.Tetapi ia

memilih untuk pensiun dalam usia itu walaupun jabatannya

memberinya peluang untuk pensiun dalam usia enam puluh tahun.Ia

berharap pilihannya akan memberikan ketenangan kepadanya di hari







tuanya,setelah bertugas demikian lama di tempatnya bekerja.

Ternyata,ketenangan itu tidak kunjung tiba,karena ia harus

berusaha keras mengisi waktunya yang melimpah.Tiga jam setiap

pagi ia menyetel radio dari berbagai stasiun,kemudian dua jam

berikutnya membaca koran dan majalah.Setelah itu ia memotong

ranting-ranting kecil di pagar dan membersihkan rumput di hala-

man.Malam hari diisinya dengan duduk tertib di depan layar kaca

televisi.

Rutinitas ini berakhir dengan rasa bosan.Ia merasa dirinya

menjadi mesin.Mesin yang harus melalui siklus yang sama setiap

saat.Tetapi pada ketika yang sama pertanyaan serupa dihadapkan

kepadanya.Mengapa dulu,ketika kau masih bekerja di kantor atau

apalah namanya , rasa bosan itu tidak pernah mengganggumu? Bukan-

kah yang kau lakukan itu juga rutinitas? Tiga puluh tahun atau

lebih seperempat abad kau dikungkung rutinitas itu dan kau menik-

matinya dengan senang.Mengapa sekarang kau merasa menjadi mesin?

Pertanyaan yang datang berulang-ulang itu selalu

dijawabnya dengan lima patah kata."Karena saya harus mencari

nafkah".

Belakangan,keraguan menyelinap ke dalam dirinya.Apakah

benar rasa bosan itu hilang dengan sendirinya karena manusia

harus mencari nafkah?. Apakah keadaan "harus" itu yang membunuh

rasa bosan?

Karena tidak ingin bertanya terus atau berdebat dengan

diri sendiri, ia menarik kesimpulan.Semua yang bersifat "harus"

dapat melumpuhkan segalanya.Narapidana tidak pernah merasa bosan

justru karena mereka harus menjalani hukuman dengan mendekam di







penjara.Pegawai kantor,buruh pabrik dan semua orang yang harus

mematuhi jam kerja tidak pernah mengenal kata bosan,karena adanya

keharusan untuk bekerja.Bahkan,para pelajar dan mahasiswa juga

tidak bosan-bosannya pergi ke sekolah dan kuliah karena mereka

harus menuntut ilmu.

*******


Abas berhenti menulis dan menyandar ke kursi.Memoar yang

ditulisnya baru menyita beberapa halaman buku tulis.Ia berhenti

menulis bukan karena merasa letih tetapi semata-mata karena

berondongan pertanyaan yang perlu segera dijawab."Kau siapa

rupanya?.Apa kau pikir akan ada orang yang mau membaca memoarmu?.

Kau pikir dirimu penting? Memangnya kau orang besar yang pernah

membuat sejarah? Atau barangkali,memoar yang kau tulis itu akan

kau terbitkan sendiri dan kemudian kau bagi-bagikan secara gratis

kepada teman-temanmu atau orang-orang yang pernah mengenalmu?".

Pertanyaan seperti itu jelas sangat mengganggu."Apakah orang

besar,orang penting dan orang ternama saja yang boleh menulis me-

moar?" Abas mengajukan pertanyaan ini sebagai jawaban terhadap

berondongan pertanyaan yang mengejeknya.

Tetapi jawaban Abas ini sama sekali tidak dapat membantu.Di

luar keinginannya,berondongan pertanyaan tadi telah mematahkan

semangatnya yang semula menggebu-gebu untuk menulis memoar.

Semula ia telah membuat jadwal kegiatan hariannya selain

yang sudah dilakukannya setiap hari.Dalam jadwal baru itu ia

mengharuskan dirinya menulis.Karya tulis itu akan dimulai dengan

sebuah memoar.Setelah itu akan muncul karya tulis yang lain.Tapi,

pertanyaan-pertanyaan yang sangat menyepelekannya itu telah me-







rontokkan keinginannya untuk menulis.

Baru memulai sudah terganjal,pikirnya.Haruskah aku menyer-

ah? Tidak.Pertanyaan itu langsung disambutnya dengan penuh keyak-

inan.Baik.Aku tidak akan menulis memoar,karena aku bukan siapa-

siapa.Aku hanya seorang pensiunan perusahaan minyak yang tidak

ada artinya buat orang lain.

Tapi,bukankah aku masih dapat menulis hal-hal lain yang

mungkin ada manfaatnya bagi orang yang membacanya? Ia mencoba

menghibur dirinya dengan pertanyaan itu.Menulis tentang dunia

perminyakan ,misalnya,ujar hatinya.Ia mencoba menghibur dirinya

lebih jauh.

Ia menjangkau buku tulis yang lain dan membuka halaman

pertamanya.Lama ia berpikir.Ternyata,tak sepatah kata pun yang

dapat digoreskannya di buku tulis itu.

Apa yang kuketahui tentang perminyakan? Tidak ada.Selama

bekerja di perusahaan minyak itu aku terus-menerus bertugas di

bagian keuangan,hingga memegang jabatan terakhir sebagai kepala

bagian keuangan. Aku bekas kepala bagian keuangan yang hanya

mengenal angka-angka.Tidak ada bedanya dengan kepala bagian

keuangan di perusahaan lain.Apakah dari mana dan ke mana uang itu

yang harus kutulis?

Ia menarik nafas panjang.Kemudian ia menengadah.Menatap

langit-langit dan merenung ternyata menimbulkan keasyikan sen-

diri.Lembar demi lembar masa lampau muncul bercerita tentang

segalanya.Betapa menyenangkan.

Di mana mereka sekarang? Di mana orang-orang yang dulu

sering membungkuk-bungkuk di hadapanku setiap kali mereka akan

mengambil chek pembayaran pembelian atau meminta transfer dana







yang mereka perlukan untuk mengerjakan proyek ? Di mana orang-

orang yang dulu sangat rajin meneleponku menanyakan apakah dana

yang mereka perlukan sudah cair?

Apakah mereka masih ingat nomor rekeningku karena begitu

seringnya mereka mengirimkan sebagian rezeki mereka ke rekeningku

itu? Kapan lagi mereka mengundangku ke pesta-pesta mahal

itu,memberi tiket gratis untuk liburan dan mengirimkan hadiah-

hadiah seperti dulu?

Abas menggeleng.Mengapa demikian banyak pertanyaan di

dunia ini? Pertanyaan yang tadi saja belum terjawab,kini berderet

pertanyaan lain meminta dilayani.Ia bangkit dari kursi dan berja-

lan hilir mudik di ruang tamu.

Hari tua yang melelahkan dan membosankan.Ia baru merasa-

kannya ketika itu.Ketika ia merasa bahwa semua yang dilakukannya

adalah pengisi waktu luang yang demikian banyak.Dulu,waktu begitu

berharga baginya dan ia harus berkejaran dan berpacu terus dengan

waktu itu.Kini waktu yang berlebih telah menjadi beban yang

sangat menyiksa.

Seandainya aku seorang pengarang,inilah saatnya untuk

menulis karya-karya besar,pikirnya.Membaca dan menulis,membaca

dan menulis.Betapa bahagia orang-orang yang bisa mengarang dan

menulis,karena mereka tidak mengenal kata pensiun. Bagi mereka

pensiun sama artinya dengan mati.

*******

Malam itu Tirah seakan tidak percaya kepada pendengarannya.

Dari kamar majikannya ia mendengar bacaan ayat-ayat suci.Begitu

tidak percayanya Tirah kepada pendengarannya sampai-sampai ia







keluar kamar dan melangkah pelan-pelan menghampiri pintu kamar

Abas.Ayat-ayat suci itu berkumandang pelan dari sana.Lama ia

berdiri di depan pintu itu dengan rasa tetap tidak percaya.

Akhirnya,ia melangkah lebih dekat.Pelan-pelan tangannya

menyentuh pintu yang sedikit terbuka itu.Ia ragu dan menarik

tangannya kembali.Tetapi,entah memperoleh keberanian dari mana

disentuhnya kembali pintu itu.Dengan rasa ingin tahu yang mengg-

gunung dikuakkannya pintu itu pelan-pelan.

Ia tertegun.Abas dengan tekun menggerakkan jarinya yang

memegang kalam pada kitab suci Alquran mengikuti bacaan ayat

yang terdengar dari rekaman kaset.Tirah terpaku tidak

percaya.Bagaimana mungkin ia bisa percaya.Selama dua puluh tahun

bekerja di rumah itu,tak sekali pun ia pernah mendengar ayat suci

di sana.Yang ia tahu,majikannya dan istrinya yang telah meninggal

serta kedua anak mereka adalah orang-orang yang setiap tahun

merayakan lebaran.Hanya itu,tidak lebih.

Pelan-pelan Tirah merapatkan pintu.Sebagai pemeluk sejati

yang dengan tekun melaksanakan kewajiban lima waktu,mulutnya

pelan-pelan terbuka dan suaranya terdengar lirih ,Alhamdulillah.

Setelah itu,dengan mulut komat-kamit ia kembali ke kamarnya.

*******

Begitu Abas ingin mengenakan pakaian setelah mandi sore

itu,ia terperanjat.Sebuah sajadah baru terlipat rapi di atas

tempat tidurnya.Lama ia terkesima.Pastilah ini perbuatan

Tirah,pikirnya.Ia merasa pastilah pembantu berumur 65 tahun itu

mendengar rekaman kaset yang diputarnya malam kemarin.

Setelah mengenakan pakaian ia memanggil Tirah.Pembantu

yang berniat baik itu tampak cemas.







"Terima kasih,Bu.Tidak usah takut.Saya tahu Ibu yang

meletakkan sajadah itu di sana".

Kali ini Tirah juga tidak percaya kepada pendengarannya.

Ibu? Abas memanggilnya Ibu? Setelah dua puluh tahun? Sebelumnya

ia hanya menyebut Rah,Tirah. Ia tetap tidak percaya.

"Waktu anak-anak saya rajin mengaji.Ketika remaja saya

dua kali khatam Alquran.Lalu sewaktu mahasiswa saya juga aktif

di organisasi mahasiswa Islam".

Tirah mengangguk.Ia menunggu lagi apa yang akan dikatakan

majikannya.

"Cuma,ya,karena lama tak membaca Alquran banyak yang

lupa.Kaset itu hanya alat untuk mengenal kembali.Mudah-mudahan

tidak lama".

Tirah mengangguk lagi.Abas menatap pembantu tua itu

sambil tersenyum.

"Terima kasih,Bu,untuk sajadahnya",ujar Abas.Setelah itu

ia kembali ke kamarnya.Ia menatap sajadah itu.Ia ingin keluar dan

memanggil Tirah.Tapi niat itu dibatalkannya.Rasa malu menghadang-

nya.Biarlah nanti akan kubeli kompas untuk mengetahui arah ki-

blat,ucapnya kepada dirinya.

*******

Hari-hari Abas selanjutnya tidak lagi merupakan hari yang

membosankan dan melelahkan.Ia telah menemukan kegairahan baru.Ia

merasa dirinya kembali berguna.Bahkan,dalam waktu tidak terlalu

lama,ia telah berani melakukan sebuah lompatan panjang yang

mengejutkan kedua anaknya dan orang-orang yang mengenalnya.

Rumah besar miliknya diserahkannya kepada sebuah yayasan







kemanusiaan yang menampung anak-anak tidak mampu.Ia hanya meminta

diizinkan tinggal di sebuah ruang kecil di bagian belakang yang

sebelumnya digunakan sebagai gudang.Dan,Tirah tetap dapat bekerja

membantu yayasan mengurus anak-anak yang kini menghuni rumah

besar itu.

Ketika Yazanul dan Malawati menyatakan keberatan dan

menuntut rumah itu sebagai warisan untuk mereka,Abas hanya menja-

wabnya dengan ringan."Inilah yang ayah wariskan untuk kalian

berdua.Puluhan anak-anak yang membutuhkan uluran tangan.Kalau

kalian belum mampu mengulurkan tangan,ayahlah yang mewakili

kalian".

Apalagi yang harus diperdebatkan kedua anaknya,kalau sang

ayah telah bulat dengan tekadnya itu.Mereka hanya mengangguk dan

menyatakan setuju walaupun tanpa rasa ikhlas.Abas membaca yang

tersimpan di hati kedua anaknya.

Dari ruang kecil di bagian belakang yang dulu bernama

gudang itu ,Abas menikmati sisa hidupnya dengan bangga. Ia

sadar,ia belum terlalu tua ,dan waktunya masih cukup banyak untuk

berbuat sesuatu terhadap sesama,yang kebetulan kurang bernasib

baik.Dari ruang kecil di bagian belakang itu pulalah ia melontar-

kan pelbagai pemikiran kepada yayasan yang dibantunya dan ikut

langsung berpartisipasi melaksanakan setiap rencana.

"Dalam hidup ini tidak ada istilah terlambat,Bu",ujarnya

kepada Tirah yang dengan setia selalu membantunya."Ibu yang

mengingatkan saya ketika meletakkan sajadah itu di kamar tidur

saya".

Tirah mengangguk dan mengerti.Ia sadar,Abas sendirilah yang

memilih jalan yang ingin ditempuhnya.Jalan untuk kembali memang







tidak pernah tertutup untuk siapa saja yang ingin melangkah ke

sana.

Tirah menitikkan air mata.Ia merasa telah menemukan seorang

saudara,seorang adik yang telah lama hilang. Selama ini ia merasa

dirinya sebagai orang yang sendiri tanpa siapa-siapa.Hidup,kini,

menjadi lebih berarti baginya.



Jakarta,27 Desember l993

Kaki Busuk

Setelah menatap Jalil orang tua itu bertanya :"Apakah saya

bisa mempercayai Anda"?

Seharusnya Jalil tersinggung dengan pertanyaan itu.Tetapi

tidak, karena ia cukup maklum akan situasi di sekitar. Pertanyaan

itu justru membuatnya semakin yakin bahwa suasana saling tidak

percaya antarwarga sudah demikian buruknya.

Bila orang tidak dikenal masuk ke kampung itu dan menanyakan

alamat seseorang semua mengatakan tidak tahu dan kemudian berlalu

dengan tergesa.Mata setiap orang yang ditemui senantiasa menatap

dengan penuh curiga. Tidak tersisa sedikit pun keramahtamahan

yang dulu merupakan ciri khas penduduk kampung ini.

"Terserah Bapak percaya kepada saya atau tidak. Saya hanya

ingin menyampaikan kabar anaknya yang sedang kuliah di Jakarta

sekaligus menyampaikan sepucuk surat yang dititipkan kepada

saya".

"Kamu berasal dari mana?" , orang tua itu tidak lagi menggu-

nakan kata Anda tetapi kamu.

"Salang. Saya juga sedang kuliah di Jakarta. Saya pulang ke

Salang karena orang tua saya sakit, tetapi sekarang sudah sembuh.

Anak Pak Amin ini tetangga saya dan kebetulan teman kuliah saya

pula".

Orang tua yang sedang memberi butir-butir padi kepada beb-

erapa ekor ayamnya di halaman depan rumahnya itu mengangguk.

"Rumahnya yang paling ujung yang ada sepeda motornya itu.

Tapi, jangan bilang saya yang memberi tahu alamatnya".

Jalil mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih ia men-

inggalkan orang tua itu menuju rumah yang dicarinya.

*****

"Tentu kamu tidak mudah mencari alamat rumah ini.Semua orang

di kampung ini hidup dalam ketakutan. Takut kalau ditanya dan

takut pula bertanya", ujar Pak Amin setelah menyilakan Jalil

duduk.

"Banyak 'cuak' berkeliaran di kampung ini. Tapi, saya lebih

suka menyebut mereka 'kaki busuk', orang-orang bayaran yang tega

menjual saudara sekampung mereka kepada juragan yang membayar

mereka. Sebagian besar orang yang mereka laporkan punya hubungan

dengan pengacau atau membantu pengacau adalah orang baik-baik

yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pengacau itu.

Kamu bisa membayangkan betapa jahatnya 'kaki busuk' itu"

"Mereka orang kampung ini juga?", tanya Jalil.

"Ada yang dari kampung ini tapi ada juga yang dari luar.

Yang dari kampung ini bekerja secara sembunyi-sembunyi, tapi yang

dari luar muncul terang-terangan dan selalu datang dengan tenta-

ra yang katanya melakukan patroli".

"Mengapa Bapak tidak pindah saja ke kampung lain?"

"Kampung mana? Semua kampung keadaannya seperti ini. Lagi

pula sawah saya di sini dan saya hidup dari hasil sawah itu. Ali

bisa kuliah di Jakarta juga karena hasil sawah ini di samping

tambahan biaya yang diberikan pamannya yang tinggal di Kuta

Banda.Dua adik Ali tinggal di rumah pamannya itu. Hanya yang

paling kecil yang tinggal di sini bersama saya dan ibunya Ali".

Selama dua jam pertemuan itu Jalil mendengar kisah-kisah

tragis yang dituturkan Pak Amin tentang orang-orang di kampung

itu, keluarga mereka yang hilang atau melarikan diri,penyiksaan

yang sangat sering terjadi dan pembunuhan.Jalil mendengarkan dan

terus mendengarkan. Akhirnya karena tidak tahan dan lelah dengan

cerita yang sangat mengiris perasaan itu,Jalil memotong pembica-

raan Pak Amin dan bercerita tentang Ali yang sangat tekun belajar

dan selalu menjadi teladan teman-temannya, termasuk Jalil.

Setelah menyerahkan titipan dan menuturkan semua yang ia

ketahui tentang Ali, Jalil meminta diri, tetapi Pak Amin memin-

tanya menunggu.Begitu selesai membaca surat Ali yang tidak

terlalu panjang itu, Pak Amin menoleh kepada Jalil.

"Ali juga menganjurkan saya untuk pindah saja ke Kuta Banda.

Dia minta saya membantu adik saya yang menjadi grosir beras di

sana.Tapi, siapa yang akan mengurus sawah ini. Mau dijual siapa

yang mau beli?"

Pak Amin memang tidak meminta Jalil untuk menjawab, ia hanya

mengutarakan persoalan yang dihadapinya kalau berencana akan

pindah.

"Cuma, dalam surat ini Ali meminta saya mengajak kamu untuk

menginap satu malam di rumah ini".

Jalil tersentak. Tidak diduganya tawaran itu akan diajukan.

Tiba-tiba ia merasa dibelit rasa takut. Menginap di rumah ini,di

kampung yang selalu menjadi sasaran operasi keamanan ini? Jalil

sama sekali tidak pernah membayangkan kemungkinan seperti itu.

Operasi keamanan telah berlangsung di kampung itu dan belasan

kampung lain di sekitarnya dalam tujuh tahun terakhir. Ratusan

telah menjadi korban pembunuhan dan penyiksaan karena dituduh

pengacau atau orang yang bekerja sama dengan pengacau. Dan ini

tidak pernah muncul menjadi berita di media mana pun.

Sebelumnya Jalil pernah mendengar tentang itu dari Ali yang

mendapat kabar dari pamannya di Kuta Banda. Sebagian besar korban

yang jatuh adalah penduduk yang belum terbukti kesalahannya.

Mereka menjadi korban hanya karena laporan orang-orang bayaran

kepada aparat keamanan. Nyawa manusia menjadi demikian murah

harganya dalam operasi keamanan seperti itu.Dan, itu semua tidak

pernah menjadi berita. Yang beredar adalah warta dari mulut ke

mulut dan tidak seorang pun pewarta berani atau berhasrat menge-

cek kebenarannya.

Tampaknya, para pewarta lebih memilih jalan yang paling

aman. Mereka hanya mewartakan, di sana sedang berlangsung operasi

keamanan dari gangguan para pengacau agar masyarakat tenang dan

dapat melaksanakan tugas sehari-hari.

Mengapa aku harus mengambil risiko dan menginap di daerah

yang menakutkan ini, pikir Jalil sambil memutar otak untuk meno-

lak ajakan Pak Amin.

"Saya tidak membawa pakaian,Pak", Jalil menolak dengan

halus.

"Ah,pakai saja baju saya dan kain sarung.Tampaknya Ali ingin

sekali kamu menginap semalam di sini".

Jalil tak mungkin lagi menolak.

*****

Sekitar pukul 3.00 dinihari rentetan tembakan terdengar agak

keras. Jalil tersentak dan bangun dari ranjangnya. Pelan-pelan ia

membuka pintu kamar. Pak Amin telah berdiri di depan kamarnya.Di

belakangnya tampak istrinya sedang mengusap-ngusap mata. Hanya

Ilyas,adik Ali, yang terus tidur.

"Di kampung sebelah, bukan di kampung ini", ujar Pak Amin

tanpa ditanya setelah memperhitungkan jarak dan arah datangnya

suara tembakan."Sudah dua minggu tidak terdengar bunyi seperti

itu.Siapa lagi yang menjadi korban?", ia seakan bertanya kepada

dirinya.

Melihat Jalil tertegun menyaksikan Pak Amin masih mengena-

kan kopiah, dan ditangannya terselip sebatang rokok , orang tua

itu segera menenangkannya.

"Setelah salat tahajud tadi saya tidak bisa tidur, tidak

tahu mengapa.Mungkin ini firasat akan terjadinya sesuatu".

"Setiap malam Bapak salat tahajud, memohon perlindungan.

Sekarang ini hanya kepada Tuhan kita bisa mengadu", istrinya

melanjutkan.

Jalil terenyuh mendengar kata-kata istri Pak Amin.Tuhan

memang tempat yang paling tepat untuk mengadu.Tetapi selain

kepada Tuhan, tidakkah ada seseorang, teman,tetangga, atau sanak

saudara yang mau mendengarkan suara hati, kecemasan, kekhawatiran

dan ketakutan mereka ? Sudah demikian tipiskah rasa persaudaraan

di kampung ini?

"Sudahlah, masih ada waktu untuk tidur sebelum salat subuh",

kata Pak Amin menatap Jalil.

Jalil kembali membaringkan tubuhnya di dipan yang beralaskan

kasur tua berbungkus seprai berwarna hijau kusam. Ia tidak dapat

memejamkan mata.Kini ia maklum, sangat maklum, mengapa wajah Ali

di Jakarta tidak pernah cerah, senantiasa digayuti mendung. Hanya

sesekali ia tertawa. Ia begitu serius belajar karena ingin cepat-

cepat menyelesaikan kuliahnya dan bekerja agar dapat membantu

kedua orang tuanya.

Mungkin,anak muda itu setiap saat dipanggang kecemasan

karena mengkhawatirkan nasib kedua orang tuanya dan adiknya.

Bagaimana keadaan mereka hari ini, besok,lusa dan hari-hari

berikutnya?

*****

"Katakan kepada Ali , saya tidak akan meninggalkan kampung

ini.Saya lahir di sini,bersekolah di kota kecil sekitar lima

kilometer dari kampung ini dan saya juga dibesarkan di sini.

Cukuplah hanya adik saya yang tinggal di Kuta Banda, juga kedua

anak saya.Lalu Ali yang kuliah lebih jauh lagi karena cita-cita-

nya yang tinggi. Saya, istri saya dan anak saya yang paling kecil

ini lebih memilih untuk tetap di kampung ini, mengurus sawah yang

selama ini menghidupi kami".

Jalil yang terpaku mendengar kata-kata itu di depan pintu

depan rumah ketika Pak Amin akan melepasnya pergi hanya membisu.

Tidak ada yang dapat dilakukannya untuk mengubah pendirian orang

tua yang tegar itu.

"Jangan khawatir, nanti keadaan juga akan berubah. Katakan

kepada Ali belajar saja sungguh-sungguh , tidak ada yang perlu

dicemaskan".

Jalil mengangguk,menjabat tangan Pak Amin serta istrinya dan

mencium Ilyas yang akan berangkat ke sekolah. Jalil melangkah

dengan cepat, tidak ingin menoleh ke belakang karena hatinya

terlalu rapuh untuk menyaksikan wajah sendu kedua orang tua Ali

dan ia ingin melupakan kehadirannya di rumah dan di kampung itu.

Ia tidak percaya di samping berharap semua yang didengarnya dari

mulut Pak Amin sebenarnya tidak pernah terjadi.Tetapi pada saat

yang sama Jalil ingin harapan Pak Amin akan benar-benar akan

terwujud dan suatu saat nanti ia akan datang lagi ke kampung ini

bersama Ali dalam suasana yang menawarkan kedamaian, kehangatan

dan persaudaraan.

Dan ia bertekad untuk tidak menceritakan semua kisah tragis

yang didengarnya dari mulut Pak Amin kepada Ali. Agar dapat

belajar lebih tekun anak muda itu harus mendapat ketenangan.

Jakarta, 28 Februari l999

(Intermeso) Bermuara Pada Kepentingan

Cowards die many times before their death;
The valiant never taste death but once.
Shakespeare, Julius Caesar

Kata-kata dalam drama Julius Caesar karya William Shakespeare yang tersohor itu benar-benar menggetarkan. Pengecut memang mati berkali-kali sebelum dijemput maut yang sebenarnya, sedangkan pemberani hanya sekali menemui ajal.
Para pengecut, khususnya orang-orang yang lari dari tanggung jawab dan tega mendustai hati nuraninya memang mati berkali-kali. Malangnya mereka tidak menyadari itu. Secara tidak sadar mereka telah merendahkan martabatnya sendiri sebagai manusia. Ironisnya, banyak di antara kita memilih bergabung dengan para pengecut itu. Dengan menjadi pengecut kita berharap, rasa aman, tenteram dan damai senantiasa akan mengitari kita. Karena itulah para pengecut muncul dimana-mana Mereka berada di tengah-tengah kita, di antara kita.
Coba Anda amati perilaku manusia-manusia di negeri ini dari waktu ke waktu, pasti Anda akan menemukan para pengecut ini dengan mudah. Misalnya, para atasan yang cepat-cepat cuci tangan kalau anak buahnya melakukan kesalahan. Seandainya ada sanksi hukum akibat kesalahan itu si anak buahlah yang harus menerima sanksi tersebut, karena kesalahan atasan telah dicuci bersih lebih dulu. Ini dianggap wajar saja. Lari dari tanggung jawab tidak dianggap aneh lagi.
Sebuah partai politik (yang baru belakangan ini menyatakan dirinya sebagai partai politik) yang sangat besar dosanya kepada bangsa dan negara ini pada masa lampau, tidak pernah merasa dirinya bersalah dan berani mengakui kesalahan itu lalu meminta maaf kepada seluruh rakyat. Keberanian untuk mengakui kesalahan memang bukan persoalan mudah. Karena itu orang atau institusi lebih suka memilih menjadi pengecut daripada harus mengakui kesalahannya.
Para pelajar tawuran ramai-ramai kemudian lari bersembunyi. Beraninya main keroyokan. Berhadapan satu lawan satu sama sekali tidak dikenal di antara mereka. Kemudian para pakar membuat kajian dan analisis. Para pelajar itu adalah remaja yang kurang mendapat perhatian orang tua mereka. Mereka membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Agar mendapat perhatian mereka lalu berbuat berbagai tindakan yang mencolok seperti tawuran itu. Berbagai dalih dikemukakan sementara tawuran tetap saja berlangsung.
Lalu analisis seperti apa yang dapat kita kemukakan jika tawuran terjadi antara warga sebuah kampung dengan kampung lainnya? Apakah warga kedua kampung itu juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang?
Makna berani mungkin telah bergeser begitu rupa dari makna valiant seperti yang dimaksudkan Shakespeare. Bisa saja para pelajar menganggap diri mereka berani jika mereka sering tawuran beramai-ramai. Begitu pula warga kampung yang suka gontok-gontokan seperti para pelajar itu.
Kalau seperti itu yang dianggap berani, wah, sangat banyak orang berani di sekitar kita. Maling sepeda motor digebuki beramai-ramai lalu dibakar. Artinya, massa berani melakukan tindakan yang sangat brutal. Kalau interogasi dilakukan(anehnya, aparat tidak pernah menyidik kasus-kasus main bakar seperti itu) bisa dijamin seratus persen tidak akan ada yang berani mengaku membakar maling itu.Aparat main tembak sesukanya. Begitu ada korban jatuh, tidak seorang pun dari aparat itu berani mengatakan : saya yang bertanggung jawab.
Menyadari bahwa sebenarnya kondisi kita memang seperti ini, sadarlah kita bahwa banyak di antara kita-- jangan-jangan sebagian besar kita—telah mati berkali-kali sebelum mati dalam artinya yang benar-benar harfiah.
Jika suatu bangsa sudah seperti ini, apa lagi yang dapat dibanggakan bangsa itu. Keberanian telah menjadi sesuatu yang sangat jauh, sayup-sayup dan sangat dirindukan.
Hanya dalam satu hal kita benar-benar berani : menampilkan kambing hitam.
Ketika ledakan bom terjadi di berbagai penjuru tanah air, kita sebut pelakunya kelompok ini dan kelompok itu. Ketika banjir merendam Jakarta awal bulan lalu, saling tuding terjadi antara administrator pusat dan DKI tentang siapa yang paling bertanggung jawab atas terjadinya banjir. Pokoknya tidak ada pihak yang merasa paling bertanggung jawab atas terjadinya suatu musibah. Padahal musibah banjir yang tak kenal ampun ini tak perlu menjadi ajang tuding menuding jika kedua pihak berani mengatakan bahwa pembangunan di republik ini tidak dilaksanakan dengan benar. Tapi siapa yang berani mengakui kebodohan seperti ini?
Kita tidak membutuhkan keberanian Rambo karena jagoan Amerika ini hanya mengandalkan otot dan lebih mengutamakan kekerasan di medan yang juga tidak mengenal belas. Yang kita perlukan adalah keberanian bertanggung jawab, dan keberanian mengedepankan hati nurani yang tidak dapat berdusta.
Malangnya, yang banyak di sekitar kita adalah orang “berani lalat” yang senantiasa bungkam atau lari setiap kali harus berhadapan dengan lawan(tanggung jawab). Agar tidak lari dari tanggung jawab orang tentu saja tidak boleh “berani-berani”(berani tanpa alasan) atau as brave as a lion seperti kata orang bule. Tampaknya, yang menjadi persoalan setiap kali orang berbicara tentang keberanian adalah tanggung jawab yang menyertai keberanian itu. Karena itu pula pepatah lama “berani berbuat berani bertanggung jawab” rasanya masih relevan hingga kini.
Seandainya manusia dihadapkan pada pilihan mati satu kali atau mati berkali-kali, kita tidak dapat menduga bagaimana hasil pilihan itu. Yang pasti alternatifnya hanya dua: pilihan sama kuat atau salah satu lebih besar. Tetapi jika sebelumnya diberitahu bahwa yang mati berkali-kali hanyalah para pengecut, mungkin yang memilih mati satu kali akan lebih banyak.
Orang akan merasa sangat terhina jika dirinya disebut pengecut, betapa pun ia sebenarnya memang pengecut. Ia akan merasa sangat terhormat kalau disebut pemberani, walaupun ia sebenarnya bukan pemberani. Kita boleh berdebat tentang “berani” atau “pengecut” sebagai sifat dasar atau pilihan. Saya cenderung untuk menyebutnya sebagai pilihan.
Orang boleh saja memiliki sifat dasar sebagai pengecut. Tetapi, pengecut ini bisa menjadi pemberani jika ia merasa harus berbuat sesuatu untuk kepentingannya. Demikian pula halnya dengan seorang pemberani. Sifat dasarnya yang berani tiba-tiba lumpuh dan ia menjadi pengecut jika ia merasa harus bersifat seperti itu untuk kepentingannya pula.
Faktor kepentingan akhirnya sangat besar pengaruhnya terhadap keberanian atau ketakutan seseorang. Faktor ini tampaknya menjadi muara kedua sifat tersebut. Orang menjadi berani karena kepentingannya, dan orang menjadi pengecut juga karena kepentingannya. Karena itu tidaklah mengherankan jika seorang pemberani tiba-tiba menjadi pengecut dan seorang pengecut tiba-tiba pula menjadi pemberani.
Ini merupakan masalah klasik yang menjadi masalah manusia sepanjang zaman.
Karena itu Shakespeare dengan mantap melontarkannya dalam kata-kata yang menggetarkan itu.
Jakarta, 4 Februari 2002

Intel

Dalam bus Damri yang membawanya dari terminal Blok M ke bandara Sukarno-Hatta , Denvar kembali ditonjok pertanyaan itu.Mengapa setiap hari ia pergi ke bandara hanya untuk menyaksikan orang-orang yang baru tiba atau orang-orang yang akan berangkat? Apa gunanya?
Apalagi untuk kegiatan yang tidak bermanfaat itu ia harus mengeluarkan biaya sepuluh ribu rupiah untuk ongkos pulang pergi dari dan ke Blok M.Dalam jumlah itu belum termasuk lima ratus rupiah ongkos bus kota dari rumahnya ke terminal bus Damri di Blok M dan lima ratus rupiah lagi dari terminal Blok M ke rumahnya. Sebelas ribu rupiah harus terbuang percuma setiap hari hanya untuk memuaskan kegemarannya yang aneh itu.
Denvar sama sekali tidak terganggu dengan tonjokan pertanyaan itu.
Selama aku mampu mengapa tidak.Begitu selalu jawabannya terhadap tonjokan itu. Juga kali ini.
Denvar mengatur jadwalnya dengan berimbang. Kalau hari ini ia berdiri dan menyaksikan orang-orang yang baru tiba di terminal kedatangan, keesokan harinya ia berdiri dan menyaksikan orang-orang yang akan pergi di terminal keberangkatan.Kalau satu minggu ini ia melakukan hal itu di terminal I bandara, minggu berikutnya ia melakukan hal yang serupa di terminal II. Dan ia puas. Ia merasa dirinyalah yang berangkat dan tiba itu.
Bahwa untuk kepuasan itu ia harus mengeluarkan uang tiga ratus tiga puluh ribu rupiah setiap bulan , baginya bukan masalah besar.
Penggemar fotografi pengeluarannya jauh lebih besar dari itu. Pengunjung tetap kafe bahkan lebih besar lagi pengeluarannya.Apalagi penggemar dan kolektor barang-barang antik. Begitu Denvar membela dirinya setiap kali pertanyaan yang tidak disukainya itu memukul gendang telinganya.Lagi pula apalah artinya uang sejumlah itu dibandingkan dengan jumlah yang kuterima setiap bulan dari warung sate milikku yang sangat laris itu.
Denvar turun dari bus Damri yang ditumpanginya dan melangkah santai ke terminal E, terminal kedatangan. Sebelum berdiri di balik kaca
untuk menyaksikan para penumpang yang baru tiba dari ruang kedatangan
ia lebih dulu mengamati jadwal kedatangan yang terpampang di layar televisi.
“Setengah jam lagi”, ujarnya pelan.Maksudnya, kedatangan pesawat terbang berikutnya adalah setengah jam lagi. Rasa dahaga dan lapar memaksanya untuk singgah di warung hamburger yang hanya berjarak beberapa meter dari layar televisi. Ia mengisi perutnya di sana sambil sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan kalau-kalau ada orang yang dikenalnya. Nah, biaya makan dan minum ini tidak pernah diperhitungkan Denvar dalam pengeluarannya setiap bulan, karena ia merasa tanpa harus pergi ke bandara pun ia tetap saja harus makan siang dan minum. Ia memang tidak pernah makan siang di warung satenya yang laris itu.
*****
Tiba-tiba Denvar tertegun. Ia merasa menyaksikan sesuatu yang sangat istimewa. Lelaki setengah baya yang disaksikannya dari balik kaca di terminal kedatangan itu, adalah lelaki yang minggu lalu juga disaksikannya ketika berangkat dari terminal keberangkatan. Baginya ini sangat istimewa, karena selama satu tahun ia mengamati orang yang datang dan pergi di bandara internasional itu tidak sekalipun ia menemukan orang yang sama. Artinya, buat Denvar, orang yang pergi yang disaksikannya ketika berangkat tidak pernah kembali. Semua orang itu telah tiba di tujuan akhir. Entah di mana. Dan semua yang tiba di terminal kedatangan berasal dari suatu tempat , entah dimana. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa mereka yang pergi dan mereka yang tiba adalah para penumpang yang berasal dari suatu tempat dan pergi ke suatu tempat pula.. Apalagi nama tempat-tempat itu jelas tertulis di layar komputer.
Mengapa ia berpikir bahwa mereka yang pergi itu tidak pernah kembali karena telah tiba di tujuan akhir dan mereka yang datang berasal dari suatu tempat entah di mana,padahal ia tahu dari mana mereka datang dan kemana mereka pergi? Denvar tidak dapat menjelaskannya. Justru di sini ia menemukan kenikmatan itu. Kenikmatan dalam ketidaktahuan.
Karena itu, ketika ia menyaksikan lelaki setengah baya itu menenteng kopor kecil keluar dari ruang kedatangan , ia seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Ini sebuah misteri.Lelaki itu kembali dari tempat tujuan akhir ke tempat semula, tempat keberangkatannya.
Misteri yang muncul setelah satu tahun ia mundar-mandir ke bandara internasional itu.Misteri. Itukah yang kucari?,ia menyapa batinnya.Tak ada jawaban. Jangan-jangan khayalanku yang melompat terlalu jauh. Jangan-jangan ribuan orang yang sama pernah kusaksikan ketika berangkat dan kembali. Hanya aku tidak memperhatikan mereka dengan cermat. Ah, ini bukan misteri.Kekurangcermatan saja yang membuatku merasa ini sebuah misteri. Akhirnya Denvar menarik kesimpulan seperti itu.
Kesimpulan yang ditarik Denvar ternyata benar. Hari hari berikutnya ada saja penumpang pesawat yang tiba di terminal kedatangan, yang juga disaksikannya ketika berangkat. Karena itu ia merasakan ada sesuatu yang hilang. Kenikmatan.Tidak ada lagi kenikmatan menyaksikan orang-orang yang pulang pergi itu. Lalu, haruskah aku melanjutkan kunjungan tetap ke bandara ini setiap hari? Ia melempar tanya itu kepada batinnya. Kali ini juga tidak terdengar jawaban.
“Belum juga datang?”, Denvar mendengar suara seseorang di belakangnya. Ia berbalik. Seseorang berusia sekitar tiga puluh tahun ,seusia dirinya, memandangnya dengan tersenyum. Denvar menatap lelaki itu penuh tanya.
“Saya Darwis,dari International Hotel”, ujar lelaki itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Denvar menyambut uluran tangan itu sambil menyebut namanya pula.
“Saya setiap hari ke sini menjemput tamu yang akan menginap di hotel tempat saya bekerja. Terkadang saya menunggu di sini, terkadang di terminal kedatangan luar negeri. Persis seperti Anda”, kata lelaki itu.
Denvar tampak gugup. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan lelaki itu. Dari ucapannya tadi, tampaknya lelaki itu sering melihat Denvar baik di terminal kedatangan dalam negeri maupun di terminal kedatangan luar negeri. Bagaimana aku harus menjawabnya? Denvar merasa dirinya berteriak meminta pertolongan untuk memberikan jawaban. Pertolongan itu ternyata datang, karena tiba-tiba. Denvar merasa dirinya memperoleh jawaban yang dapat meyakinkan lelaki itu.
“Saya hanya mengamat-amati orang yang dicurigai.Jika ada saya segera melapor”
Lelaki itu mengangguk berkali-kali. Mendengar jawaban Denvar ia yakin Denvar adalah petugas keamanan. Bisa petugas keamanan bandara dan mungkin pula anggota kepolisian.Tapi kecurigaan Darwis hanya satu.Denvar adalah aparat intelijen. Ledakan-ledakan bom, perdagangan obat-obat laknat mengharuskan aparat keamanan meningkatkan kesiagaan mereka. Denvar adalah salah seorang aparat yang senantiasa siaga itu ,
ujar lelaki itu dalam hati.
Setelah mengangguk lelaki itu melangkah pergi meninggalkan Denvar. Denvar tersenyum. Begitu mudahnya orang dibohongi sekarang ini,katanya kepada dirinya. Dia segera pergi karena dia tahu seorang petugas
dalam penyamaran tidak begitu suka untuk diajak mengobrol.Mungkin ia menduga aku ini aparat intelijen.Mungkin saja.Intelijen yang lazim disebut dengan singkatan “intel” memang tidak disukai, tetapi sekaligus juga ditakuti. Begitu Denvar menarik kesimpulan tentang kepergian lelaki itu.
Namun, beberapa detik kemudian Denvar merasa dijepit oleh kecurigaan yang datang tiba-tiba.Jangan-jangan orang yang mengaku petugas hotel itu yang sebenarnya intel. Ia mencurigai kehadiranku di bandara ini. Siapa tahu ia sudah meperhatikanku satu bulan, dua bulan atau mungkin satu tahun ini.Celaka, pikir Denvar. Kecemasan membuat Denvar menoleh ke sekelingnya mencari orang yang menegurnya tadi.
Ia melangkah dan mengamati satu-persatu orang-orang yang berada di sekitarnya. Lelaki bernama Darwis itu telah sirna entah kemana.Denvar menarik napas.Lelaki itu harus kucari sampai dapat begitu tekad Denvar.
Kalau ia memang seorang intel aku harus menjelaskan kepadanya bahwa aku datang ke bandara dan mengamat-amati orang yang akan berangkat atau yang baru datang semata-mata karena rasa senang. Aku mendapat kenikmatan dengan memandangi orang-orang itu. Aku merasa akulah yang datang dan berangkat itu.Mudah-mudahan ia tidak terlalu sulit diyakinkan dan mempercayai keteranganku. Siapa tahu, setelah mendengar penjelasanku ia memang percaya dan tidak menaruh kecurigaan apa pun.
Tidak enak dan mencemaskan bila menjadi orang yang dicurigai.
Bisa saja setelah mendengar penjelasanku ia menjadi seorang kenalan yang baik dan kemudian meningkat menjadi seorang sahabat. Mudah-mudahan. Itulah harapan Denvar.
Denvar baru bertemu kembali dengan lelaki bernama Darwis itu satu minggu kemudian.Ia memeluk laki-laki itu dengan gembira. Ia terus bertanya siapa lelaki itu sebenarnya.Lelaki bernama Darwis yang senantiasa mengenakan dasi itu berkali-kali meyakinkan Denvar bahwa ia memang bekerja di International Hotel dan tugasnya adalah menjemput tamu yang akan menginap di hotel tempatnya bekerja.
Keterangannya diperkuat dengan kartu nama yang diberikannya kepada Denvar. Tetapi Denvar tetap tidak percaya dan ia berkali-kali pula meyakinkan Darwis bahwa kedatangannya setiap hari ke bandara benar-benar hanya untuk menyaksikan orang-orang yang akan berangkat dan yang baru tiba.Tidak ada maksud lain.Dan ia bukan petugas yang siap melapor jika ada orang yang dicurigai.
Akhirnya kedua orang itu lelah setelah saling meyakinkan. Mereka saling memandang dan kemudian serentak tertawa.
“Ternyata begitu takutnya kita berdua ini terhadap intel”, kata Darwis.
Denvar mengangguk berkali-kali.
“Tetapi mengapa kita harus takut. Kan kita tidak bersalah”, ujar Darwis lebih lanjut.”Saya datang ke bandara ini setiap hari semata-mata karena tugas. Dan Anda mundar-mandir ke bandara ini hanya untuk menyaksikan para penumpang yang datang dan pergi. Tidak ada yang salah, kan?”
Denvar mengangguk lagi. Tak lama setelah itu ia menatap mata Darwis.
“Yang salah, sih,memang ada. Ya, itu, rasa takut kita” ujar Denvar serius.
Kali ini Darwis yang mengangguk.Berkali-kali.Setelah itu ia tersenyum dan mengatakan :”Freedom from fear tampaknya memang cuma
ada dalam kata-kata, tidak dalam kenyataan”.
“Apa itu”? tanya Denvar yang sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris.
“Bebas dari rasa takut” sahut Darwis yang sering menggunakan bahasa asing itu dengan tamu-tamunya.
Darwis sebenarnya masih ingin melanjutkan kata-katanya, tetapi seorang kulit putih menegurnya “Are you from International Hotel?”..
Darwis mengangguk dan buru-buru menggulung kertas yang sejak tadi dibentangkannya. Setelah menanya nama orang kulit putih itu dan menjabat tangannya ia segera mengajak orang kulit putih itu untuk mengikutinya. Darwis, bahkan, lupa untuk pamitan kepada Denvar.
Denvar memukul keningnya. Begitu menggebu-gebunya ia berupaya meyakinkan Darwis bahwa ia bukan petugas atau intel dan ia hanya mengamat-amati orang yang datang dan pergi di bandara, sampai-sampai ia sama sekali tidak memperhatikan kertas yang dibentangkan Darwis ke arah orang-orang yang baru tiba di terminal kedatangan.Ia baru membaca nama yang terpampang di sana setelah orang kulit putih itu menegur Darwis.Ia menggelengkan kepala berkali-kali sambil tersenyum.Ketika ia melangkah
Pulang senyumnya masih tetap bertengger di wajahnya.
Jakarta,6 September 2000
*************

Wednesday, August 02, 2006

He Is Not Late

In Abas’s eyes everything around was darkness. In the darkness everyone was dumb as if the sound of voice was something very costly. Loneliness stabbed him ruthlessly. He wanted to hear the sound of something. Even the sound of cough might be able to rid himself of the solitude.
Why should there have been such dark and deathly still? Would the wheel of fortune be able to rotate in such a condition? He tried to find an answer which could
give him a shaft of light and hope. Hope was the only means to survive.
As an old man he had nothing to make him happy. His wife had died for years and his children, Malawati and Yazanul, had never come to see him. They had been busy with their job and children.
He had to accept the reality with an understanding. The big house he lived in was now his own. Apart from himself, the only person living in the house was Tirah, his maid, who had been working there for twenty years. I was only Tirah who took care of the big house and became his friend to talk to.
As a matter of fact , Abas was fifty five years old, an age which was not to old
and could still be considered productive age. But he preferred to retire at the age although his position allowed him to work until he was sixty. He hoped his choice would give him peace of mind in his old age after serving for years in his office.
Unluckily, the peace of mind had never appeared , because he had to tried hard to pass his long and excessive time. Three hours every morning he tuned in various radio stations, and two hours later he read newspapers and magazines. The next ritual was clipping the hedge and lawn mowing. In the evening he killed his time by watching TV for hours.
This routine ended-up with boredom. He felt himself had become a machine. A machine which had to cycle the same path every second. But at the same time a similar question had been confronted with him. How come, while you were still working , the boredom had never disturbed you. The job you did was also a routine activities , didn’t it? Thirty years you had been shackled by the routine activities and you had enjoyed it. Why now you considered yourself had become a machine?
He answered the repeating questions with a seven- word sentence.”Because I had to earn a living”.Later he began to hesitate.Was it true that the boredom would vanish automatically because human-being had to work? Was it true that the compulsory condition had killed the boredom?
Since he didn’t want to keep asking or debating with himself, he jumped to a conclusion. Everything with compulsory character could paralyzed everything. Convicts had never got bored because they had to serve their sentence in jail. Employees, factory labors and all those who had to do their job during office hours had never known the word “bored” because they had to work. Even , high school and university students had never tired of going to school and attending the class because they had to broaden their knowledge.
******
Abas stopped writing and leaned against a chair. Memoir he was writing had only filled a few pages of writing book. He stopped writing not because he had been tired, but because of a series of questions in need of quick reply..”What do you think you are?” . “Do you think there would be someone who wanted to read your memoir”? “Do you think you are an important person?” “Do you think you are a big shot who took part in the history?”. Or probably , you are going to be the publisher of the memoir you are writing and then you would distribute the memoir for free to your friends or to people you know?”
Such questions was certainly very disturbing. ”Are there only big shots, important persons or noted figures eligible to write a memoir?” Abas threw these question as a reply to the series of questions despising him.
But Abas’s answer couldn’t be of any assistance. Unexpectedly, the consistent attack of the questions had discouraged Abas-- who in the beginning was very eager to write a memoir—to carry on what he had started.
At first he had made a new itinerary of his daily activities in addition to what he had done before. In the new itinerary he had made it an obligation for him to write. The writing would begin with a memoir. Later other kinds of writing would follow. But the insulting questions had damaged his spirit to write.
I had just begun, then came the obstacle, he said to himself.. Do I have to give in? No. He countered the questions with full self-confidence. OK. I would not write a memoir, because I am nobody. I am only a retired employee of an oil company who would mean nothing for others.
But, am I not be able to write other matters which will be useful for those who are going to read them. He tried to console himself by putting such a question. Writing about oil industry , for instance, he said. He tried further to make himself comfortable.
He reached out for another writing book opened the first page of the book. Then he was deep in thought. In fact, not a single word he could write in the writing book.
What do I know about oil industry? Nothing. While I was working for the oil company, I had continually been empoyed in the treasury department till I was promoted to be department head. I am only a former treasury department head who only familiar with numerical counting.
He took a deep breath. Then he looked upward. Looking at the ceiling and thinking over something had in fact joyful. Pages over pages of the past appeared and told him everything. What a joy.
Where are they now? Where are those who used to bow before me when they came to see me to collect their cheques or when they asked me to transfer the fund they needed to carry-out a project?. Where are those who used to call me frequently to ask whether the fund they needed can be collected?.
Do they still remember my account number because they used to frequently transferred some of their fortune to the account?. When will they invite me to expensive parties , give me free tickets for holidays and send me gifts as they used to do?
Abas shook his head. How come so many questions in the world. Earlier questions had not been replied yet, then other questions appeared. He raised from his chair and walked back and forth in the living room.
What a tiring and boring old age. He was only aware of that when he felt that all he had been doing was to kill the excessive spare time. In the past , time was very precious for him and he had to spend it efficiently. Now , the abundant spare time had become a very torturing burden.
If I were a writer, this is the moment for me to write masterpieces, he thought. Reading and writing, reading and writing. How happy will be those who can write fictions and non-fictions , because they are unfamiliar with the word “retired”. For them,
retired means dead.
*****
That evening Tirah didn’t believe what he had heard. From his boss’ room verses recital of Alquran was clearly audible. It was so unbelievable for her that she came out from her room and stepped slowly to the door of Abas’s room. The verses recital came out from the room. Tirah stood there for quite a long time . She still didn’t believe what she had heard.
Tto convince herself she walked closer. Slowly her hand touched the little-opened door. Then she hesitated and held up her hand. But, as if encouraged by something she touched again the door. With great curiosity she slowly opened the door.
She stood in awe in front of the door. Seriously Abas moved his fingers holding palm leaf rib pointing at the verses of Alquran following the sound of the verses reading from a tape recorder. Tirah stood there speechless. How come she could believe it. Twenty years she had been working there and she had never heard , not even once, anyone had read the verses of the holy Koran in the house. What she had known was her boss , his late wife and his two children celebrated the Eid Al Fitr every year. No more than that.
Tirah slowly closed the door. As a true believer who solemnly said the five obligatory prayers daily , Tirah’s mouth slowly open and with a soft voice she said alhamdulillah. Then she returned to her room.
****
When Abas was wearing his shirt after afternoon shower , he was surprised.
A new prayer rug was folded neatly on his bed. He gazet at the prayer mat for a long time. It must be Tirah who put it there, he said to himself. The sixty five years old maid
must have heard the recording sound of the Koran reading last night.
After wearing his shirt he called Tirah. The good willed maid was worried.
“Thank you, Bu. Don’t worry. I know it was you who put the prayer mat there”.
This time Tirah also didn’ believe what she had heard. Ibu? Abas called her Ibu? After twenty years? All this time he usually called her by Rah, Tirah. She still didn’t believe what she had heard.
“When I was a kid I diligently read the Koran. When I was a teenager I had finished reading the Koran twice. Then when I was a university sudent I got involved actively in the Islamic student organization”.
Tirah nodded. She waited what else would be disclosed by his boss.
“But , since I had never reading the Koran for quite a long time. I couldn’t read it as good as before. The cassette recorder is only a means of good reading. Hopefully it will not take too long”
Tirah nodded again. Abas looked at the old maid smilingly.
“Thankyou, Bu, for the prayer rug”, Abas said. Abas left the maid and returned to his room. He looked at the prayer mat. Suddenly he wanted to get out and called Tirah. Then, he held back. He was ashamed. Let me do it by myself, buying a compass to know the direction of kiblat, he said to himself.
*****
The following Abas’s days was no longer boring and tiring days. He had found a new spirit. He felt himself useful as he used to. In the not-too long-time he even had made a great leap to the surprise of his two children and people who knew him.
He gave his big house to a humanitarian foundation which sheltered the poor children. He only asked permission to live in a small room in the rear of the house which was originally used as a storeroom. And Tirah could still worked there to help taking care of the children inhabiting the house.
When Yazanul and Malawati rejected the idea of giving the house to the foundation and appealed to Abas to bequeath the house to them, Abas only said, “this is the thing I would like to bequeath to both of you.Tens of children who need our assistance. If both of you are still unable to extend a helping hand , it is me who representing you”.
What else to be debated by the children , if their father had been fully determined like that. They only nodded assent though deep in their heart they disagreed. Abas could read it.
From the small room which was originally made as a storeroom, Abas enjoyed the rest of his life with pride. He was aware, he was not to old, and he still had plenty of time to do something for others who happened to be less fortunate. Also from that small room he offered suggestions to the foundation he helped and took part actively in carrying out every program.
“In this life there is no room for the word “late, Bu”, he said to Tirah, who faithfully always helped him. “ It was you who reminded me about that by putting the prayer mat in my bedroom”.
Tirah nodded and tried to understand. She realized that it was Abas who chose to go through the path he wanted. The road to return had never been closed for those who wanted to step there.
Tears streaming down Tirah’s cheek. She felt she had found a brother, a little brother who had long been lost. All this time he felt herself all alone. Now, life had been more meaningful for her.
******
Glossary:
Ibu or Bu, Indonesian for Madam or Mrs.
Alhamdulillah, Arabic for praise be to God.
Kiblat, Indonesian for direction of Mecca.

Gobzadeh

Hujan rintik-rintik di luar. Gobzadeh mengambil rokok terakhir dari bungkusnya. Ia menyulut rokok itu, mengisapnya dengan nikmat dan mengepul-ngepulkan asapnya.
Dengan rokok terakhir yang disedotnya itu,si perokok berat ini telah menghabiskan enam puluh batang rokok dari pukul tujuh pagi hingga pukul sebelas malam itu. Paling tidak begitulah menurut pengakuannya. Aku percaya kepada pengakuannya itu, karena setiap kali aku bertemu dengannya sebatang rokok pasti menyelip di antara jari-jari tangannya.
Hujan rintik-rintik tidak juga berhenti. Gobzadeh yang telah jemu menunggu hujan berhenti akhirnya berkata: “Aku tidur di sini sajalah. Kalau kau tidak keberatan”.
Aku mengangguk. Setiap kali ia mau menginap di rumah kontrakanku , ia tidak pernah lupa mengucapkan kalimat “ kalau kau tidak keberatan”. Kebetulan rumah kontrakanku memiliki dua kamar tidur, sehingga aku tidak pernah terganggu jika ada teman yang menginap di rumahku. Si perokok berat ini adalah salah seorang yang sering menginap, minimal satu kali sebulan.
Begitu ia melangkah meninggalkanku menuju kamar tidur dengan setengah berteriak aku mengingatkannya.
“Deh, kalau masih mau merokok, jangan ke kamar dulu. Habiskan dulu rokokmu”.
Ia berpaling. Lalu kembali ke arahku duduk. Rokok yang apinya hampir mencapai bagian filter itu dimatikannya di asbak di depanku.
“Aku juga tahu merokok dalam kamar tertutup tidak sehat”, ujarnya sambil melangkah kembali menuju kamar tidur.
Sebenarnya aku hanya menggodanya. Aku juga tahu rokok yang baru dimatikannya di depanku adalah rokok terakhir yang dimilikinya. Tapi kalau aku tidak memperingatkannya seperti tadi pastilah rokok terakhir itu akan dilemparkannya kelantai dan diinjaknya dengan sepatunya begitu ia tidak mengisapnya lagi.
******
Gobzadeh adalah sarjana ekonomi yang telah menganggur selama tiga tahun sejak ia diberhentikan dari pekerjaannya karena perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut akibat salah urus. Berkali-kali ia berupaya mencari lapangan kerja baru dan setiap kali itu pula ia terbentur pada kenyataan pahit. Lamarannya ditolak. Sejak itulah ia mulai berkenalan dan bersahabat dengan rokok. Sahabatnya itu selalu menyertainya ke mana pun ia pergi. Tanpa rokok di tangannya ia merasa dirinya benar-benar tanpa teman, tanpa siapa-siapa. “All alone”, katanya dalam bahasa Inggris.
Bahasa Inggris Gobzadeh benar-benar lancar dan lafalnya sempurna. Karena itu ia sering mengejek para penyiar televisi dan radio yang berbahasa Inggris pontang-panting. Begitu pula dengan bahasa Inggris pembaca iklan yang menurut Gobzadeh lidahnya perlu diasah dengan kertas pasir.
“Inilah penyakit orang Indonesia”, katanya pada suatu sore kepadaku. “Kalau belajar selalu setengah hati. Tak pernah sungguh-sungguh. Makanya ilmu pengetahuan tidak pernah kita ketahui dengan baik. Apalagi menguasainya”.
Kalau Gobzadeh sudah berbicara seperti itu berarti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Karena itu aku jarang sekali mengomentari ucapannya. Aku biarkan saja ia melepaskan
kegundahannya itu. Aku selalu menempatkan diriku sebagai pendengar yang baik, Gobzadeh ternyata merasa terganggu juga karena sikapku itu . Karena itu suatu ketika ia bertanya kepadaku.
“Kau tidak heran dalam keadaan menganggur begini aku masih bisa membeli rokok, bahkan terkadang tiga bungkus yang masing-masing berisi dua puluh batang?”
Aku yang tidak pernah menduga akan dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu terkejut juga. Karena itu aku tidak dapat langsung menjawab.
“Tentu karena kau menduga keluarga istriku kaya dan istriku mempunyai tabungan yang cukup banyak untuk membiayai hidup kami selama tiga tahun di samping membiayai kuliah anak kami yang duduk di semester terakhir di universitas itu”.
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu”.
“Memang yang membiayai hidup kami selama tiga tahun ini adalah uang istriku. Tapi aku orang bermartabat. Aku tidak mau menjadi tanggungan istriku. Semula istriku memang ingin menggunakan seluruh tabungannya dan meminta uang dari ayahnya untuk membiayai hidup kami, seandainya jumlah uang di tabungan itu tidak cukup. Aku bilang, aku keberatan jika ia menggunakan uang tabungan itu. Aku baru setuju uang itu digunakan jika sifatnya pinjaman. Artinya, aku meminjam uang istriku itu. Nanti akan dibayar dengan mencicil begitu aku mendapat kerja lagi”.
Perokok berat itu menatapku yang dengan sungguh-sungguh mendengarkan ceritanya.
“Sebagai orang bermartabat aku tidak ingin menyusahkan istriku dan mertuaku. Dengan meminjam berarti aku berkewajiban membayar. Berarti pula aku tidak menjadi tanggungan atau beban bagi mereka. Kapan utang itu akan dibayar tergantung pada keadaan dan waktu. Yang pasti akan dibayar”.
“Seandainya satu tahun ini kau belum mendapat kerja?”
“Ya, itu tadi. Ini kan soal waktu”.
Sebagai teman dekat dari perokok berat yang dalam keadaan terjepit masih bicara soal martabat ini , aku kembali menggodanya.
“Kalau begitu ikuti saja kebijaksanaan pemerintah. Kalau sampai mati kau belum mampu membayar utangmu karena belum mendapat kerja, biarkan saja anakmu yang membayar utangmu kepada istrimu dan mertuamu. Kalau tidak juga selesai sampai anakmu mati, biarkan cucumu yang membayarnya. Artinya, kau bisa berutang sesukamu dan nanti biar anak cucumu yang membayarnya”.
Gobzadeh tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terguncang-guncang.
“Kalau perlu kebijaksanaan seperti itu yang akan aku laksanakan. Mengapa tidak?”
Aku tahu Gobzadeh tidak sungguh-sungguh dengan jawabannya itu. Ia memang serius mencari kerja ke sana ke mari, cuma nasibnya saja yang kurang beruntung. Jumlah orang yang bernasib seperti Gobzadeh ini sebenarnya puluhan ribu di negeri ini.
“Istriku ternyata tidak pesimistis seperti kau. Ia yakin tidak lama lagi aku akan mendapat kerja. Dan cicilan utang pun akan dibayar secara bertahap”.
******
“Aku iri kepada Susetio”, katanya kemarin ketika ia muncul di rumahku pagi-pagi sekali. “Dalam usia 45 tahun ia sudah berani memilih pensiun dari jabatannya sebagai direktur perusahaan perkapalan itu. Setelah bekerja di sana 20 tahun , barangkali tabungannya sekarang sudah milyaran. Anggota DPR saja yang baru bertugas tiga tahun di gedung wakil rakyat itu sudah memiliki kekayaan milyaran apalagi Susetio”.
Aku enggan memberi komentar.
“Karena itu Susetio dapat kembali ke habitatnya, main musik. Bahagia sekali dia.
Dia gembira sekali ketika bertemu denganku setelah selesai salat Jumat kemarin dulu. Aku dibawanya dengan mobilnya ke Sizzler dan kami makan steak sepuasnya dan bercerita panjang lebar di sana. Ketika dia bertanya apa kerjaku, dengan spontan aku menjawab ,”pekerja sosial”. Dia sangat senang mendengar jawabanku. Dia sekaligus bangga karena dalam keadaan ekonomi bangsa seperti ini, masih ada orang yang mau meluangkan waktunya untuk kerja-kerja sosial bagi kepentingan orang lain. Dia memuji aku setinggi langit”.
Gobzadeh bercerita dengan nada suara rendah dan datar. Sambil berkisah asap rokoknya terus juga mengepul.
“Dua hal yang baru kusadari ketika mengobrol dengan Susetio itu. Umurku sudah 46 tahun, karena aku satu tahun lebih tua dari Susetio. Kesadaranku itu muncul ketika Susetio mengatakan ia pensiun muda dalam usia 45 tahun. Pantas, pikirku, lamaranku selama ini selalu ditolak karena yang diperlukan untuk bekerja adalah orang-orang muda, young turks Saat itu. tiba-tiba aku merasa putus asa. Jangan-jangan aku tidak mungkin lagi bekerja di perusahaan mana pun. Artinya aku harus berusaha sendiri, berwiraswasta. Sedangkan untuk itu diperlukan modal kerja. Tepat pada waktu itu pula Susetio bertanya aku bekerja di mana. Spontan kujawab “pekerja sosial”. Ini tidak ada kaitannya dengan martabat. Ini jawaban yang meluncur begitu saja”.
Aku mengangguk. Gobzadeh, aku dan Susetio adalah rekan-rekan sebaya dengan selisih umur satu tahun. Aku satu tahun kelahiran dengan Susetio dan Gobzadeh satu tahun lebih tua daripada kami. Suara rendah dan datar ketika ia menuturkan kisah pertemuannya dengan Susetio, mungkin mencerminkan keputusasaan yang masih tersimpan dalam diriya. Berapa lama lagi ia harus menganggur dan berutang kepada istri dan mertuanya? Aku jelas tidak mungkin menolong Gobzadeh untuk mendapatkan pekerjaan, karena aku hanyalah pegawai biasa di sebuah perusahaan penerbitan buku. Tetapi simpatiku yang besar kepada temanku perokok berat dan penganggur ini, membuatku berpikir untuk segera bertemu dengan Susetio. Siapa tahu ia bisa membantu.
******
Kami hanyut dalam kisah-kisah lama ketika masih di SMA. Pembicaraan melompat-lompat dan melebar ke berbagai penjuru. Setelah dua jam dalam keasyikan seperti itu baru aku sadar mengapa aku menemui Susetio. Karena itu segera kukemukakan maksud kedatanganku kepadanya. Mendengar keteranganku Susetio melepas tawanya yang khas itu.
“Aku justru ingin bergabung dengan Gobzadeh”, katanya. “Kerja sosial itu kerja mulia.
Aku kembali ke habitatku, main musik, mencipta lagu, hanya untuk mencari kepuasaan yang tidak pernah kuperoleh selama dua dekade, hampir setengah usiaku ,kugunakan untuk mencari nafkah. Dengan bermain musik aku menemukan kepuasan batin dan dapat honor yang lumayan lagi walaupun kami hanya tampil satu kali seminggu di hotel milik si Conrad itu. Aku ingin bicara dengan Gobzadeh bahwa kelompok musikku siap untuk tampil dalam pertunjukan yang tujuannya mencari dana untuk amal tanpa dibayar satu sen pun. Tiba-tiba kau datang dengan cerita yang mengejutkan ini”.
“Aku jelas tidak mungkin membantunya, siapa tahu kau barangkali bisa”.
Susetio berpikir. Melihat ia diam dan berpikir seperti itu , aku merasa harapan akan datang mengetuk pintu. Dan seorang teman akan terselamatkan dari kesukaran.
“Apa yang seharusnya kulakukan?’
“Aku juga tidak tahu”.
Susetio tampak berpikir keras. Ketika ia tersenyum aku merasa ia telah menemukan jalan keluar.
“Gobzadeh itu orang yang sangat mengutamakan martabat. Dalam keadaan lapar karena belum makan, ia masih bisa mencongkel-congkel gigi seakan-akan baru selesai makan”, ujarnya tertawa. Aku yang terkenang kembali akan kisah lama itu ikut tertawa.
“Aku sebenarnya punya perusahaan kecil , biro perjalanan. Kebetulan yang bertugas menjadi manager di sana bulan ini minta berhenti. Ia ingin kembali ke profesinya semula, menjadi wartawan. Gobzadeh bisa langsung menduduki posisi manager itu kalau dia mau”.
Aku ingin berteriak gembira menyambut keputusannya itu. Tetapi sebelum teriakanku
kulepas, Susetio mematahkannya.
“Tapi aku yakin Gobzadeh tidak mau menerima tawaran itu. Ia orang bermartabat. Martabat baginya adalah kedaulatan bagi suatu bangsa. Di pasti merasa dengan bekerja di perusahaanku, ia menjadi pegawaiku, anak buahku. Kebanggaannya sebagai orang bermartabat pasti terluka dengan kondisi seperti itu”.
Kau benar, ujarku dalam hati, menyambut kata-kata Susetio. Seandainya martabat itu tidak dipuja Gobzadeh secara berlebihan ,mungkin uluran tangan seorang teman dengan niat baik itu dapat menyelamatkan siperokok berat itu. Gelak yang tadi meledak silih berganti ketika kami berpaling ke masa lalu yang menyenangkan kini tidak terdengar lagi. Di teras rumah Susetio yang luas itu kami dibelenggu kebingungan.
“Yang ini pasti akan disetujui Gobzadeh”, suara Susetio terdengar keras memecah keheningan di antara kami. Aku menunggu apa sebenarnya yang bersarang dalam benak Susetio.
“Kelompok musik kami belum mempunyai manager. Kelompok musik ini bukan perusahaan tapi milik bersama. Dengan menjadi manager, kalau dia mau, Gobzadeh juga akan menjadi pemilik kelompok ini. Dengan kesetaraan seperti ini martabat Gobzadeh tidak akan terusik”.
“Pemikiran cemerlang”, begitu aku menyambut kata-kata Susetio, sambil menjabat tangannya.
“Nah, tugasmu untuk menyampaikan kabar baik ini kepada sahabat kita itu”, ujar Susetio.
“Siap”, sahutku dengan kegembiraan yang meluap.
Aku melangkah ringan meninggalkan rumah Susetio sambil bersiul. Segera kupanggil taksi menuju rumah Gobzadeh. Ia sedang pergi. Kutunggu si perokok berat itu satu jam, dua jam…hingga lima jam. Begitu ia pulang dengan wajah berseri kusampaikan kabar gembira ini.
Gobzadeh lama menatapku. Kemudian dengan ringan ia menyahut.
“Tahu apa aku tentang musik. Jangan-jangan band-nya si Susetio itu akan hancur berantakan kalau aku jadi managernya. Ada-ada saja kalian….”

Jakarta, 24 Mei 2001.

*****

Dua Orang Ibu

Ibu Maryam melangkah ke pintu pagar rumahnya. Di pintu pagar

itu ia menoleh ke kanan ke belokan jalan yang menuju ke Sungai

Deras. Lama ia menatap ke tikungan jalan itu sebelum ia kembali

ke ruang tamu rumahnya.

Mengapa ia belum datang? Ibu Maryam tertanya-tanya. Senja

mulai mengintip dan sebentar lagi kegelapan akan datang menyung-

kup.Sepi yang merayap mengantarkan Ibu Maryam kepada peristiwa

satu tahun lalu.Ia bergidik.

Satu bulan setelah itu ia berkenalan dengan Ibu Longgom yang

khusus datang, menabur bunga dan berdoa di samping tiang listrik

yang hanya berjarak sepuluh meter dari pintu pagar rumahnya. Ia

menawarkan Ibu Longgom agar mampir ke rumahnya. Dialog akrab pun

terbuka.Tiba-tiba mereka merasa bersahabat .Di ruang tamu itu

mereka berbagi duka. Mereka adalah dua orang ibu yang dirundung

nasib yang sama. Dua wanita yang sama-sama berusia 55 tahun yang

dirampas kebahagiaannya oleh kekerasan dan kekejaman sesama

makhluk Tuhan.

Setelah itu selama lima bulan berturut-turut Ibu Longgom

senantiasa menyinggahi rumah Ibu Maryam setelah ia selesai mena-

bur bunga dan berdoa di samping tiang listrik di pinggir jalan

itu. Seharusnya, hari ini, di bulan ke tujuh, Ibu Longgom sudah

harus berada di pinggir jalan itu menabur bunga dan berdoa

seperti sebelumnya.Mengapa ia belum muncul?

"Kekerasan dan kekejaman terhadap siapa pun itu dilakukan

adalah adalah penistaan terhadap martabat manusia".Kata-kata yang

pernah didengar Ibu Maryam di televisi itu mengiang kembali di

telinganya.Ia sangat memahami maknanya. Ia cukup terpelajar untuk

itu.

Kendatipun ia hanya sempat dua tahun mengenyam pendidikan di

universitas, lingkungan pergaulannya lumayan luas.Sebelum pensiun

suaminya memegang jabatan kepala bagian pengeboran di sebuah

perusahaan minyak asing.Kedua putrinya berhasil menyelesaikan

pendidikan mereka sebagai dokter gigi dan sarjana hukum sebelum

suaminya meninggal tiga tahun lalu.

Setelah itu ia hanya ditemani dua orang pembantu di rumah

besar peninggalan suaminya, karena kedua putrinya telah menikah

dan tidak lagi berdiam di rumah itu.Sepi mulai mencakar ketika

kedua putrinya meninggalkan rumah itu mengikuti suami mereka.

Tapi, masih ada Minton, putra kebanggaannya, yang selalu mendam-

pinginya.Minton senantiasa dapat meredam cakaran rasa sepi itu

setiap kali ia berada di dekat ibunya.

Karena itulah ketika Minton direnggutkan dengan kejam dari

sisinya ia terlempar ke dalam pusaran kesedihan yang tak habis-

habisnya.Siang baginya hanyalah himpunan detik,menit dan jam yang

menderetkan siksaan. Malam tidak lain dari kegelapan yang tidak

memberi cahaya sedikit pun untuk dapat melihat tempat

berpegang.Inikah kehidupan yang harus kutempuh sepanjang sisa

hidupku? Pertanyaan itu senantiasa menyelinap dan bertengger di

rongga hatinya.

Minton,Minton, tanpa harus berjemur di terik yang membakar,

berlelah-lelah dan mengotot memperjuangkan kepentingan orang

banyak itu pun kau sebenarnya telah menjadi seorang

pejuang.Pejuang yang memberi keteduhan kepada ibumu. Tanpa peluru

yang menembus tubuhmu yang putih bersih seperti hatimu itu pun

kau sebenarnya telah melakukan tugasmu yang sempurna sebagai anak

dengan tekun belajar dan merencanakan sesuatu yang mungkin untuk

masa depanmu.

Tidak ada yang diharapkan seorang ibu dari anaknya selain

kemampuan dan kesungguhan anaknya merencanakan masa depannya

sendiri.Kau telah melakukan itu, anakku.Kau telah memberikan itu

kepada ibu sebelum ibu memintanya.Tetapi, hiruk-pikuk di sekitar-

mu telah membuatku tergetar untuk ikut serta dalam sebuah perja-

lanan panjang yang kau sebut perjuangan. Ibu tidak menyalahkanmu,

anakku.Ibu hanya merasakan kehilangan yang sangat berat, hilang-

nya sebuah harapan yang telah dibangun dengan penuh perhitungan.

Monolog seperti ini seakan-akan diputar berulang-ulang oleh Ibu

Maryam sejak terbunuhnya Minton satu setengah tahun lalu.

Perkenalannya dengan Ibu Longgom telah mengantarkannya pada

persahabatan sejati.Persahabatan yang lahir dari suatu situasi

yang sama, kematian yang dipaksakan. Persahabatan itu sedikit

demi sedikit juga terasa mengurangi beban yang dipikulnya.

Namun, percakapannya bulan lalu dengan Ibu Longgom di ruang

tamu rumah ini agak sukar untuk disetujuinya.

"Anak ibu gugur untuk suatu perjuangan yang suci", ujar Ibu

Longgom."Tapi anak saya mati konyol karena kejahatan".

"Tapi kedua mereka diperlakukan tidak adil dan sangat

kejam", sahut Ibu Maryam.

"Itu tidak mengubah nilai kematian mereka".

Ibu Maryam tertegun. Ibu Longgom pedagang kaki lima yang

sederhana itu masih berbicara tentang nilai pada saat ia menying-

gung kematian. Demikian pentingkah arti nilai bagi sebuah kema-

tian?

"Saya menjerit dan berteriak sekuat tenaga ketika menyaksi-

kan anak ibu dikeroyok beramai-ramai hingga ia terjerembab tak

berdaya tidak jauh dari tiang istrik itu.Teriakan saya lenyap

karena keriuhan suara mereka yang merasa mendapat kemenangan dari

anak yang tidak berdaya itu.Kekejaman itu dipamerkan di hadapan

puluhan mata orang lain.Dan, puncaknya..", Ibu Maryam berhenti

dan menarik napas mengenang kebiadaban itu "...seseorang entah

datang dari mana berlari mendekati tubuh anak ibu dan menyiramnya

dengan minyak bensin yang dituang dari sebuah jeriken. Lalu orang

itu menyalakan korek api dan melemparkannya ke tubuh anak ibu

yang berlumur minyak bensin itu".

Kemudian Ibu Maryam tak mampu melanjutkan kata-katanya.Ibu

Longgom juga tak dapat menahan isaknya. Setelah isak itu berhenti

suara Ibu Maryam terdengar lirih.

"Apakah nilai sebuah sepeda motor sebanding dengan kekejaman

yang mereka lakukan? Kalau pun anak ibu mencuri sepeda motor itu,

adalah sangat tidak adil kalau ia diperlakukan seperti itu. Hakim

yang paling kejam pun tidak akan tega menjatuhkan hukuman begitu

sadis".

Ruang tamu itu tersengat oleh duka. Dua orang ibu yang

kehilangan anak dalam situasi yang sangat berbeda saling menyapa

dan mencoba saling membela.

"Itulah risiko paling berat dari sebuah perbuatan

tercela.Seandainya anak saya tidak mencuri sepeda motor itu ia

tidak akan mengalami nasib seperti itu.Kemiskinan cenderung

membuat orang terjerumus", Ibu Longgom mencoba menanggapi kata-

kata terakhir Ibu Maryam.

Ibu Maryam tersentuh. Ia tidak tahu dan tidak ingin tahu

mengapa anak Ibu Longgom mencuri sepeda motor itu. Apakah itu ada

kaitannya dengen kemiskinan atau tidak. Ia hanya tidak dapat

menerima kebrutalan yang menjadi hakim atas peristiwa tragis itu,

seperti ia juga tidak dapat menerima kematian anaknya yang diber-

ondong peluru tajam yang dilepaskan dengan sengaja dari jarak

dekat justru ketika anaknya telah mengangkat tangan dan berlari

mundur dalam sebuah demonstrasi mahasiswa.

Ia tidak dapat memahami mengapa Ibu Longgom begitu pasrah

dan dapat menerima perlakuan tidak adil terhadap anaknya.Baginya

perbuatan tercela memang harus menerima ganjaran, apakah ganjaran

itu setimpal atau tidak dengan perbuatan tercela yang dilakukan

tidak pernah menjadi pertimbangannya. Dengan menyebut nilai pada

sebuah kematian tampaknya Ibu Longgom dapat memahami mengapa

orang ramai itu membantai anaknya tanpa belas kasihan.Apalagi ia

menyebut kematian Minton untuk suatu tugas suci dan kematian

anaknya adalah kematian konyol.Ibu Maryam sukar untuk menyetujui

pendapat itu.

Ibu Maryam melangkah ke pintu. Lama ia berdiri di sana.

Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju pintu pagar. Di pintu

pagar itu ia kembali menoleh ke tikungan jalan di sebelah kanan.

Orang yang ditunggunya belum juga muncul. Ia menoleh ke kiri ke

arah tiang listrik yang hanya berjarak sepuluh meter dari pintu

pagarnya. Lampu jalan telah menyala di puncak tiang itu. Tidak

ada bunga yang disebar di jalan di bawah cahaya lampu itu dan

tidak ada orang berdoa di sana.

Ibu Maryam melangkah pelan ke rumahnya.Pusaran kepedihan itu

kembali melilitnya.Ia terombang-ambing di pusaran itu.Ia begitu

mempersoalkan keadaan atau cara yang mengantarkan orang pada

kematian sedangkan Ibu Longgom begitu pasrah dan naif menerima

keadaan dan cara itu.

Baginya, bahaya yang lebih serius mulai mengancam. Jika

semua orang bersikap seperti Ibu Longgom, menerima kekejaman dan

kebuasan dalam menghakimi orang lain , kekejaman dan kebuasan itu

akan menjadi pola permanen dalam kehidupan penduduk di sekitar-

nya.

Pusaran itu menariknya ke peristiwa tragis yang menimpa dua

anak manusia dalam dua kejadian yang berbeda. Ia mendengar rente-

tan tembakan dan jeritan kepedihan anaknya serta menyaksikan

nyala api yang membubung membakar tubuh yang masih menyimpan

nyawa dan orang-orang berteriak menyuarakan kemenangan di seke-

liling tubuh anak Ibu Longgom.

Ia beristigfar karena merasa tidak berdaya dan tidak dapat

berbuat apa-apa. Azan magrib yang memanggil-manggil menyadarkan

Ibu Maryam untuk segera menghadap-Nya.



Jakarta,15 Januari 2000.

Tuesday, August 01, 2006

Dongeng

Seekor kucing mengeong di belakangnya. Ia berpaling. Kucing itu menatapnya. Seekor kucing jinak menawarkan tatapan bersahabat. Alogo menyambut tatapan itu dengan senyum. Kemudian ia melempar pandangannya ke arah rumah- rumah yang tidak beraturan letaknya , kira-kira seratus meter dari tempatnya duduk. Pastilah kucing ini datang dari salah satu rumah itu ,pikirnya. Kucing itu mengeong lagi. Alogo membalasnya dengan mengeong menirukan eongan kucing itu. Kucing itu berbalik dan melangkah pergi. Setelah kucing itu hilang di balik ilalang dan rerumputan yang tumbuh liar di sana , Alogo melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sudah satu jam lebih aku di sini" , ujarnya , seakan-akan mengucapkan kalimat itu kepada seseorang di dekatnya. Padahal, tidak seorang pun berada di tempat itu. Walaupun sudah satu jam lebih ia duduk di batang kayu yang tergeletak di sana , ia belum berhasrat untuk beranjak. Ada sesuatu yang membuatnya ingin lebih lama di tempat itu. Rasa kehilangan seorang saudara dan kebenaran cerita yang didengarnya dari beberapa orang di kampung itu. Menurut beberapa orang di kawasan berbukit-bukit itu , disekitar tempatnya duduk itulah saudaranya , Abner, diberondong dengan tembakan, tiga puluh tujuh tahun lalu. Abner dibantai bukan oleh lawan tetapi oleh temannya sendiri. Ia dan beberapa sahabatnya menjadi korban dan terbunuh karena perselisihan pribadi dengan salah seorang rekannya dalam memperebutkan posisi pimpinan pasukan. Perang saudara akibat dari sebuah pemberontakan telah menggoreskan berbagai kepedihan dan membuat luka yang menganga untuk beberapa lama. Perang yang sebenarnya tak perlu terjadi dan patut disesalkan. Alogo mencoba membayangkan wajah abangnya, Abner, yang meninggalkannya ketika ia masih berusia delapan tahun. Seorang pemuda lulusan SMA , bertubuh kekar , berkulit agak putih , tinggi, tampan dan bermata bulat. Pemuda itulah dan beberapa sahabatnya yang digiring ke dalam hutan dengan mata tertutup dan kemudian dihabisi dengan tembakan beruntun. Ketika itu sentimen kedaerahan yang merasa dianaktirikan oleh pusat meluap-luap hingga melampauai batas. Atas nama keadilan anak-anak muda terpanggil untuk bahu membahu dengan aparat keamanan daerah, memberontak terhadap pusat. Perang saudara tak terelakkan dan korban pun berjatuhan. Abner adalah anak muda yang juga terseret dalam perang yang tragis itu. Akhir hidupnya menjadi sebuah tragedi , karena ia tidak sempat berhadapan dengan pihak yang dianggapnya lawan. Yang pertama-tama dihadapinya adalah perselisihan sesama teman, dua minggu setelah mereka masuk hutan.Jabatan pimpinan ternyata sangat menyilaukan hampir semua yang merasa dirinya kuat secara fisik dan punya banyak teman. Abner tidak mampu membebaskan dirinya dari sengketa itu karena ia juga berambisi menduduki posisi pimpinan. Ia dan beberapa sahabatnya yang berpihak kepadanya hingga saat- saat terakhir akhirnya harus merelakan diri mereka menjadi sasaran tembak dan berondongan peluru. Kisah ini didengar Alogo dari beberapa orang yang merasa mengetahui terjadinya peristiwa itu dan dari seorang tua berusia 76 tahun yang anaknya menyaksikan eksekusi itu dijalankan. Benarkah semua kisah yang dituturkan orang-orang kampung itu ? Pertanyaan itu bersipongang menuntut jawaban. Dan Alogo tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Jarak kota tempat tinggal Alogo ketika berusia delapan tahun itu dengan kampung ini kira-kira dua ratus kilometer.Tetapi, dari kampung inilah ayahnya berasal. Karena itu, begitu ia menyebut nama ayahnya ,semua orang di kampung itu mencoba memberikan keterangan yang mereka anggap dibutuhkan Alogo. Mereka memberikan simpati yang besar begitu mengetahui bahwa kedua orang tua Alogo telah meninggal dunia. Dan mereka sangat memahami mengapa Alogo berupaya mencari jejak saudaranya yang cuma satu-satunya itu. Sebelum Abner meninggalkan rumah dengan sejumlah sahabatnya, ayahnya sedang bersiap-siap untuk dimutasikan ke sebuah kota kecil di Kalimantan. Seminggu setelah Abner pergi, keluarganya pindah ke tempat ayahnya dimutasikan itu. Setelah lima tahun di sana , keluarga ini pindah lagi ke beberapa tempat di Maluku , Sulawesi dan akhirnya ke Jakarta. Mulanya, ayahnya senantiasa mencari kabar tentang Abner ke kota tempat mereka tinggal dulu.Belakangan, ke kampung asalnya pun sang ayah mengirimkan surat menanyakan nasib anaknya. Tidak seorang pun yang ditanya dapat memberi kabar tentang Abner. Putra pertama itu hilang tak meninggalkan bekas. Akhirnya, sang ayah begitu juga istrinya pasrah dan tidak berupaya mencari anaknya lagi.Alogo juga tidak pernah berharap akan dapat bertemu lagi dengan saudara tunggalnya itu. Nama Abner telah lama hilang dari catatan mereka.Tak lama setelah pensiun ayah Alogo meninggal disusul ibunya dua tahun kemudian. Kini , ketika berusia 45 tahun, Alogo terpanggil untuk mencari abangnya karena sebuah kabar yang sukar dipercaya. Kabar yang disampaikan pemilik pakter tuak itu mengagetkan sekaligus menggembirakan Alogo. Setelah puluhan tahun pasrah tiba-tiba ia merasa kehilangan dan ingin bertemu dengan saudaranya. Tapi , di kampung ini ia mendengar cerita yang sama sekali lain. Abner , saudaranya yang dicarinya ternyata telah tewas dibunuh oleh temannya sendiri , tidak jauh dari tempatnya duduk saat itu.

*****

"Abangmu masih hidup. Saya berani bersaksi untuk itu ", ujar pemilik pakter tuak itu kepada Alogo. Alogo hanya memandangnya dengan tatapan kosong.Ia tahu pemilik pakter tuak itu tidak dalam keadaan mabuk dan ia sadar bahwa pemilik pakter tuak itu berkata sungguh-sungguh. Pertemuan tidak sengaja kedua orang yang tidak saling mengenal itu ketika mereka mengambil kartu penduduk telah mengantarkan Alogo kepada harapan yang tidak pernah diimpikannya. "Satu minggu setelah masuk hutan kami diserang.Serangan yang kami hadapi begitu menakutkan dan membuat kami kocar-kacir begitu juga aparat keamanan yang mengajak kami. Saya dan Abner menyelamatkan diri dengan masuk lebih jauh ke dalam hutan.Sepuluh hari lamanya kami kelaparan dan sengsara di hutan itu sebelum akhirnya kami mencapai kota pantai S. Dengan sebuah kapal pengangkut barang kami diseberangkan ke pulau Ns. Untuk itu kami harus bertugas sebagai anak kapal karena sama sekali tidak punya uang di kantong". Pemilik pakter tuak itu menyulut sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam dan melanjutkan ceritanya. " Sejak menyelamatkan diri dari serangan hingga kami tiba di pulau Ns , rasa takut yang sangat menghantui itu tak juga mau meninggalkan kami. Setelah kami yakin bahwa pulau itu tidak mungkin akan menjadi sasaran serangan dan penduduk di sana tidak begitu banyak tahu tentang pergolakan yang terjadi di pulau besar baru kami berani mengadu nasib.Ternyata, sepuluh tahun kami bersama-sama di pulau itu. Abner menikah dengan penduduk pulau itu, begitu juga saya". Pemilik pakter tuak itu mengamati wajah Alogo yang tampak serius mendengarkan. "Abner tidak mau meninggalkan pulau itu ketika saya ajak untuk mengadu nasib di Jakarta ini.Rasa takut memang tidak ada lagi tapi rasa malunya terlalu membebaninya. Ia malu kalau-kalau bertemu dengan orang yang pernah dikenalnya.Ia malu kalau ketahuan lari terbirit-birit menyelamatkan diri, padahal sebelumnya dengan gagah ia mengatakan akan berjuang hingga titik darah penghabisan. Ia merasa bersalah karena tidak mempedulikan larangan kedua orang tuanya". Mendengar kalimat terakhir itu Alogo menegakkan kepala. Ternyata abangku menyesal atas perbuatannya,pikirnya. " Ia sebenarnya ingin sekali bertemu dengan ayahmu,ibumu dan kau sendiri.Ia sering menyebut namamu. Ia ingin meminta maaf kepada kalian semua. Tapi, rasa malu itu terus-menerus mengekangnya. Ia tidak pernah tahu di mana kalian karena ia tidak pernah mengadakan hubungan dengan siapa pun kecuali dengan orang-orang di sekitarnya di pulau itu.Datanglah ke rumah saya, nanti akan saya perlihatkan foto kami ketika ia mengantarkan saya ke pelabuhan".

*****

Alogo mengamati foto yang mulai berwarna kuning itu dengan mata tak berkedip. Melalui foto yang telah berusia 27 tahun itu ia mencoba untuk mengenal kembali wajah saudaranya.Benarah itu Abner ? Secepat itukah rambutnya rontok ? Ah , foto itu tidak bisa memperlihatkan apakah kulitnya masih putih bersih seperti dulu.Dengan duduk di atas kopor seperti itu Alogo tidak dapat menduga berapa sebenarnya tinggi orang yang mungkin memang saudaranya itu. " Tidak ada foto lain ?" , tanya Alogo. " Dulu banyak ,sekarang tinggal satu-satunya itu", sahut pemilik pakter tuak. "Kapan Bapak berhubungan terakhir kali dengannya?" Pemilik pakter tuak itu mencoba mengingat-ingat. "Ya , kira-kira tiga tahun lalu". " Dengan surat?" " Ya". Ketika meninggalkan rumah pemilik pakter tuak itu Alogo meminta alamat Abner. Esoknya ia melayangkan surat ke alamat yang diberikan kepadanya. Sepucuk surat balasan datang sebulan kemudian.Dengan jantung berdebar ia membuka surat itu. Ia membaca surat itu hingga selesai. Setelah itu Alogo bergegas menemui pemilik pakter tuak di rumahnya. Begitu pemilik pakter tuak membuka pintunya , Alogo segera menyodorkan surat yang baru diterimanya. Dengan tenang sambil sesekali menatap Alogo pemilik pakter itu membaca surat yang disodorkan kepadanya. "Sinaga memang teman saya, bahkan sahabat saya.Dia adalah pendongeng besar yang berhasil.Kepada saudara ia mendongeng bahwa saya dan dia menyelamatkan diri terbirit-birit ketika terjadi serangan terhadap kami pada masa pergolakan daerah dul.Kami selamat dan tinggal di pulau tempat saya tinggal sekarang Tapi, kepada penduduk kampung tempat kami bertahan ulu ia mendongeng pula bahwa saya diberondong hingga tewas oleh teman-teman saya sendiri.Ia khusus datang ke sana lima tahun lalu untuk menyampaikan dongeng tragis itu. Di kota di tempat saya bersekolah dan tinggal bersama ayah,ibu dan seorang adik saya , ia bercerita kepada semua orang yang saya kenal bahwa saya gugur secara terhormat ketika menghadapi serangan gencar pihak awan. Saya telah menjadi obyek dongeng yang menarik.Barangkali hanya salah satu dari dongeng itu yang mendekati kenyataan atau benar.Saya tidak tahu. Saya benar- benar tidak tahu.Dan saya juga tidak mengerti mengapa Sinaga apabila saya ragu bahwa sayalah Abner yang saudara cari". Begitu pemilik pakter tuak itu selesai membaca surat, ia memandang Alogo.Alogo juga menatapnya.Ruang tamu itu hening tanpa suara.Akhirnya, pemilik pakter tuak itu tersenyum. Sambil menggelengkan kepala ia berujar :"Perasaan malu itu ternyata masih kental dalam dirinya.Tapi, percayalah, ia pasti menulis surat ini dengan menangis karena gembira. Dan saya yakin suatu saat nanti dia yang akan datang menemuimu.Untuk pertama kalinya ia akan meninggalkan pulau itu untuk menemui saudaranya". Alogo membisu.Keraguan menggoncang batinnya.Seandainya semua yang didengar dan dibacanya adalah dongeng, apakah ia akan berhenti mencari saudaranya? Andaikata ia pergi ke alamat surat di pulau itu apakah ia akan mendengar sebuah dongeng baru ? "Percayalah kepada saya" , kata pemilik pakter tuak itu. Alogo mengangguk berkali-kali. Ia berjanji akan menunggu dan mencoba mempercayai salah satu dongeng itu.Dongeng yang akan memberinya harapan dan ketenangan.
Jakarta, 16 Juni l995

**********